Ruang Isolasi (AIIR) - :: Charitas Hospital Palembang

 

Ruang Isolasi (AIIR)

Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium Tuberculosis. Bakteri ini mampu hidup selama berbulan-bulan ditempat yang sejuk dan gelap. terutama ditempat yang lembab, dan cepat mati dengan sinar matahari langsung.

Kuman TB dapat menimbulkan infeksi pada paru-paru sehingga disebut TB Paru. Selain menginfeksi paru, kuman TB bisa masuk ke pembuluh darah dan menyebar ke seluruh tubuh yang menyebabkan penyakit TB di bagian tubuh yang lain, seperti tulang, sendi, selaput otak, kelenjar getah bening, dan lainnya. Penyakit TB di luar paru disebut TB Extrapulmoner.

Penularan Kuman Tuberculosis (TB) melalui udara. Dalam dahak penderita TB terdapat banyak sekali kuman TB. Ketika seorang penderita TB batuk atau bersin tanpa menutup mulut dan hidung akan menyebarkan 3000 kuman ke udara. Kuman tersebut ada dalam percikan dahak, yang disebut dengan droplet nuclei atau percik renik (percik halus).

Percikan dahak yang amat kecil ini melayang-layang di udara dan mampu menembus dan bersarang dalam paru orang orang di sekitarnya. Penularan ini bisa terjadi dimana saja, termasuk perumahan yang bersih sekalipun. Bagi orang yang memiliki kekebalan baik maka ia tidak akan terkena TB. Tetapi sebaliknya bila daya tahan tubuh orang tersebut melemah maka setelah beberapa bulan orang tersebut bisa terkena penyakit TB.

Tanda dan gejala TB adalah batuk berdahak > 2-3 minggu , demam tanpa sebab > 1 tahun, keringat malam tanpa kegiatan, berat badan menurun, nafsu makan berkurang, sesak nafas dan rasa nyeri pada dada, serta pernah batuk dahak bercampur bercak darah.

Yang harus dilakukan bila ada tanda dan gejala diatas adalah :

Segera periksakan diri anda ke unit pelayanan kesehatan terdekat /ke rumah sakit atau dokter praktek. Pemeriksaan Laboratorium dahak diambil 3x untuk memastikan adanya kuman TBC di dalam tubuh. Dahak diambil 3x selama 2 hari yaitu dahak sewaktu datang ke UPK/RS, dahak pagi hari ketika bangun tidur, dahak sewaktu datang ke UPK/RS. Pemeriksaan Rontgen paru-paru dan kultur dahak bila diperlukan. Untuk anak-anak diakukan pemeriksaan Test Mantoux.

Pengobatan penyakit TB adalah dengan cara minum obat OAT (obat anti Tuberkulosis) secara teratur dan terus menerus selama 6 - 8 bulan sesuai petunjuk yang diberikan oleh dokter atau petugas kesehatan

Obat OAT terdiri dari 4 macam yaitu : Isoniasid, Rifampisin, Pirazinamid, Ethambutol.

Obat ini dibentuk dalam kemasan dosis tetap (KDT) . Obat ini dapat dipilih secara gratis di Poli DOTS terdekat dimana orang tersebut tinggal.

Pengobatan OAT dibagi dalam 2 fase :

1. Fase awal (dua bulan) adalah pemberian Isoniazid, Rifampisin, Pirazinamid, Ethambutol, yang diminum setiap hari

2. Fase lanjutan (empat bulan), diberikan Isoniazid dan rifampisin yang diminum 3xseminggu. Fase lanjutan ini penting untuk membunuh kuman yang masih ada di dalam tubuh sehingga pasien dapat sembuh dan mencegah potensi penyakit kambuh.

Bila pengobatan pertama gagal maka harus ditambah obat suntikan Streptomisin setiap hari selama 2 bulan.

Cara minum obat OAT yang benar adalah obat diminum dalam keadaan perut kosong yaitu ½ jam sebelum makan pagi atau malam sebelum tidur. Obat diminum sekaligus sesuai dosis yang ditentukan oleh dokter. Bila tidak minum obat selama 1 hari, maka hari berikutnya hanya menelan obat sekali saja tidak boleh di double (digabung). Jangan berhenti minum obat sendiri kecuali atas perintah dokter/petugas kesehatan.

Hal yang biasa timbul setelah mengkonsumsi obat OAT adalah air seni dan keringat berubah warna menjadi merah, gatal kulit yang ringan, mual, tidak nafsu makan.

Hal yang timbul yang harus dikonsultasikan ke dokter adalah mata dan kulit menjadi kuning, muntah-muntah, lemas atau pingsan, mata berkunang-kunang, kram otot perut, hilangnya pendengaran, dan demam yang tidak jelas.

Hal yang sering dirasakan pasien setelah dua bulan pengobatan, antara lain gejala batuk berkurang, bahkan hilang, batuk darah berhenti, nafsu makan membaik, dan diikuti kenaikan berat badan. Dalam tahap ini biasanya pasien merasa sudah sembuh dan mulai bosan minum obat. Persis pada tahap ini pasien harus paham bahwa kuman TB belum benar-benar mati.

Pasien TB dinyatakan sembuh bila pada pemeriksaan ulang dahak di laboratorium pada bulan ke 2, 5, dan 6 pengobatan TBC sudah negatif, Foto Rontgen paru membaik, keluhan berkurang/hilang, nafsu makan membaik, berat badan meningkat.

Penyakit TB bisa kambuh kembali bila orang yang telah sembuh dari TB masih kontak dengan penderita TB positif lainnya. Jika daya tahan tubuh lemah bisa ketularan dari penderita TB yang kuman TB nya positif.

Cara kita agar kita tidak tertular penyakit TBC adalah Makan makanan seimbang dan bergizi dengan harga terjangkau, tidak merokok, tidak menggunakan obat terlarang dan minum-minuman beralkohol, menerapkan perilaku hidup sehat dan bersih, olah raga secara teratur, istirahat yang cukup.

Untuk penderita TB paru bisa mencegah penularannya dengan cara menutup mulut saat batuk/bersin.

Charitas Hospital Palembang sudah menyiapkan ruangan rawat inap yang khusus untuk pasien yang terkena penyakit TB Paru, yaitu ruang Airborne Infection Isolation Room (AIIR). Selain TB Paru disini juga merawat pasien dengan Morbilli dan Varicella pada saat masa inkubasi nya. Dimana ruangan ini baru beroperasi pada tanggal 1 Mei 2017.

Disini kami akan merawat pasien agar pasien terpisah dari pasien lainnya agar pasien yang sudah terkena TB Paru tidak menularkan dengan pasien lain yang bukan dengan penyakit TB.

Ruangan AIIR ini sudah memenuhi syarat sebagai ruangan Isolasi dimana semua Ruangan kamar pasien sudah bertekanan negative, ruangan kamar ber AC dan nyaman, mempunyai ruang Anteroom , sehingga pasien tidak merasa diasingkan (di isolasikan). Kami merawat pasien dengan penuh kasih tanpa membedakan status, agama, ras dan golongan, kami merawat sama seperti kami merawat pasien dengan penyakit lainnya, hanya APD nya saja yang berbeda. Pasien dan keluarga yang berada di ruangan kamar pasien harus menggunakan masker. Pasien tidak perlu dijaga keluarga karena kebutuhan pasien terpenuhi di sini, sehingga keluarga juga tidak akan tertular oleh penyakit TB paru ini.

Menangani dan merawat pasien TB tidaklah mudah, tidak seperti menangani pasien dengan penyakit lain. Mereka harus minum obat dalam jangka waktu lama, banyak mengalami efek samping obat, rasa putus asa, bosan, bahkan menyentuh hubungan antar manusia. Sampai saat ini masih banyak orang mengucilkan penderita TB, mereka takut tertular, padahal pasien TB membutuhkan dukungan dan pendampingan, karena itulah kami ada untuk merawat mereka, memberi motivasi agar mereka mau menjalankan pengobatan sampai sembuh.